When Managers Struggle, Teams Feel It: Why Manager Upskilling Must Be a Priority

When Managers Struggle, Teams Feel It: Why Manager Upskilling Must Be a Priority

Gallup melaporkan global employee engagement berada di 20% pada 2025, sementara manager engagement turun menjadi 22%. Ketika manager kehilangan clarity, energy, atau support, dampaknya menyebar ke prioritas, feedback, trust, dan pengalaman tim.

Banyak organisasi menempatkan seseorang menjadi supervisor setelah ia sukses sebagai individual contributor. Namun pekerjaan memimpin berbeda dari pekerjaan teknis. Manager harus menerjemahkan target, menetapkan ekspektasi, mengadakan performance conversation, melakukan coaching, mengelola konflik, dan menjaga accountability.

Tanpa development, manager sering terjebak di dua ekstrem: terlalu mengontrol atau terlalu menghindari. Keduanya melemahkan ownership. Training manager harus memberi language, tools, practice, feedback, dan dukungan dari atasan manager, bukan hanya teori leadership.

Prioritas pertama bukan membangun charismatic leader. Prioritas pertama adalah membuat everyday leadership lebih konsisten: one-on-one yang bermakna, expectation yang jelas, feedback tepat waktu, decision yang transparan, dan follow-through yang dapat dipercaya.

What organizations can do now

  • Definisikan five critical manager conversations.
  • Latih coaching dan feedback dengan kasus nyata.
  • Berikan manager guide dan observation checklist.
  • Bangun peer clinic untuk kasus sulit.
  • Ukur perubahan pada clarity, trust, follow-through, dan team application.
ESS dapat membantu merancang leadership journey dari foundational leadership hingga strategic people management.

Bagikan: