Dalam Deloitte 2025 Gen Z and Millennial Survey, 70% Gen Z dan 59% millennials mengatakan mereka mengembangkan skill untuk kemajuan karier setidaknya setiap minggu. Banyak yang bahkan melakukannya di luar jam kerja.
Data ini menunjukkan motivasi belajar sudah ada, tetapi tidak selalu terhubung dengan kebutuhan organisasi. Ketika internal development tidak jelas, karyawan mencari pembelajaran sendiri. Hasilnya dapat positif, tetapi capability yang tumbuh belum tentu selaras dengan role, career path, atau future business needs.
Organisasi perlu bergerak dari “menyediakan training” menuju “mendesain pertumbuhan.” Itu berarti memberi skill visibility, opportunity to practice, feedback, internal mobility, dan percakapan karier yang nyata. Manager memainkan peran penting sebagai penerjemah antara aspirasi individu dan kebutuhan bisnis.
Untuk workplace multigenerational, pendekatan terbaik bukan stereotip generasi. Gunakan data sebagai pembuka, lalu pahami individu, konteks kerja, preferensi komunikasi, dan motivasi yang sebenarnya.
What organizations can do now
- Tunjukkan capability pathway per role.
- Hubungkan learning dengan project dan opportunity nyata.
- Latih manager melakukan career conversation.
- Gunakan practice, feedback, dan reflection.
- Hindari label generasi yang menyederhanakan manusia.
| ESS dapat membantu mengembangkan communication, leadership, coaching, dan collaboration untuk workplace lintas generasi. |


